24

“Dan dengan tidak terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu, Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, kadang-kadang ia pergi lagi dan di tinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit.”
Pramoedya Ananta Toer, (Bukan Pasar Malam, 68)

Karena aku telah berusaha menyusun kata demi kata, kemudian menghapusnya, begitu seterusnya hingga beberapa kali. Maka, maaf kalau aku hanya mampu menuliskan ulang beberapa kalimat yang aku baca semalam, dari sebuah buku yang tempo hari kau kirimkan. Untuk 24-mu.

“…usia itu ironi. Memandang ke lubang langit-langit, ia terbaring di lantai berdebu dengan luka memerih mengingat usia dan, entah datang dari mana, ia merasakan perasaan tertentu atas ingatannya. Ia merasa, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia ingin merayakan usia. Ia tahu, usia, waktu, tak lain adalah titik demi titik pada orbit bumi yang hanya seolah-olah. Bagaimana mungkin orang berpikir bahwa usia sesungguhnya pernah bertambah; semesta bergerak negatif, seperti bom waktu yang berjalan menuju kehancurannya. Tapi ia tetap ingin merayakan usia. Kali ini saja. Di antara seluruh waktu yang telah berlalu dan yang akan berlalu; ia berpikir bahwa sekali ini, pada acara semacam tiup lilin, yang sederhana—tak perlu mengundang kerabat atau teman-teman yang fana—ia tak akan merasa hina untuk meneteskan satu dua butir air mata dan berdoa—entah pada siapa dan untuk apa. Bukan karena, sekalipun ia tak menyesal, seumur hidupnya ia tak pernah sekalipun merayakan apa-apa. Bukan karena ia tak pernah berpikir bahwa perayaan dan pesta menyempurnakan kemanusiaannya. Ia hanya ingin sebuah adegan penutup yang tepat untuk melengkapi seluruh pastiche ini, seluruh kekonyolan dan slapstick yang satir dan seperti terus-menerus menunujuk sesuatu yang penting dan berarti. Seluruh yang terus-menerus disebut dengan hormat sebagai “hidup di tengah peradaban manusia”. Seluruh yang sedang bergerak menghancurkan diri sendiri.”

Kamu yang bersikukuh dengan omong kosong perayaan hari lahir, barangkali suatu saat akan melewati masa di mana kamu perlu melakukan perayaan kecil, dengan api seadanya yang kau nyalakan dari korek apimu, merapal doa sesaat dan sekali tiup, kamarmu—yang katamu sempit—akan kembali menjadi gulita. Usiamu terus beranjak. Harapanmu semakin menanjak. Beberapa masalah akan datang mendesak. Dan kamu akan terus memaknai hidup.

Selamat menginjak 24—yang sialnya aku tak tahu persis tanggal berapa. Semoga kita dapat segera memepatkan jarak dan waktu.

(1:54 PM, 3/10, dengan pengantar Álfheimr – A Song for Hopes and Dreams)